Problematika Hilirisasi Bauksit dan Mimpi Swasembada Aluminium MIND ID

Problematika Hilirisasi Bauksit dan Mimpi Swasembada Aluminium MIND ID

Indonesia menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan aluminium domestik. Hilirisasi bauksit pun terus digenjot untuk mewujudkan swasembada aluminium.

Problematika Hilirisasi Bauksit dan Mimpi Swasembada Aluminium MIND ID Indonesia menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan aluminium domestik. Hilirisasi bauksit pun terus digenjot untuk mewujudkan swasembada aluminium.

Bisnis.com, JAKARTA — Pemenuhan kebutuhan aluminium dalam negeri saat ini masih menjadi tantangan di tengah tren meningkatnya permintaan yang didorong oleh pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Pengembangan hilirisasi bauksit menjadi aluminium pun masih perlu didukung dengan pembenahan regulasi dan tata kelola.  Bauksit dinilai memiliki peran kunci dalam mendorong penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan bauksit Indonesia mencapai sekitar 7,4 miliar ton, dengan 2,7 miliar ton di antaranya berstatus siap dieksploitasi. Potensi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan cadangan bauksit terbesar di dunia. Dengan kebijakan hilirisasi yang konsisten, pengembangan infrastruktur, dan pengelolaan lingkungan yang baik, Indonesia pun berpeluang menjadi pusat industri aluminium terkemuka di Asia Tenggara. Sayangnya, saat ini kapasitas produksi aluminium dalam negeri masih sangat rendah bila dibandingkan dengan kebutuhan nasional. Dalam hal ini, Holding BUMN Pertambangan MIND ID melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebagai pemain kunci dalam memproduksi aluminium ingot dari alumina, terus menggenjot hilirisasi bauksit untuk menjadi aluminium. Inalum di Kuala Tanjung merupakan satu-satunya produsen aluminium nasional dengan kapasitas input alumina sekitar 500.000 ton per tahun. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan, Inalum bakal meningkatkan kapasitas produksi aluminium nasional hingga mencapai 900.000 ton per tahun pada 2029. Angka ini naik dari kapasitas terpasang saat ini sebesar 274.230 ton per tahun.

Dia mengatakan, peningkatan kapasitas produksi aluminium diupayakan untuk terus memperkecil gap antara suplai dan permintaan aluminium nasional yang saat ini mencapai 1,2 juta ton per tahun. Menurutnya, konsumsi aluminium domestik diperkirakan akan meningkat sekitar 600% dalam 30 tahun ke depan, terutama untuk mendukung ekosistem industri kendaraan listrik (electric vehicles/EV) dan baterai EV, serta energi terbarukan. Maroef menyebutkan, penggunaan material aluminium untuk satu battery pack mencapai 18% dan kebutuhan produksi sebuah panel surya berkapasitas 1 megawatt (MW) memerlukan aluminium sekitar 21 ton. “Grup MIND ID berkomitmen untuk menjadi penggerak hilirisasi aluminium terintegrasi guna memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen aluminium dunia dan mampu berdaulat dalam mendukung industri manufaktur sekaligus mengurangi ketergantungan impor,” kata Maroef, beberapa waktu lalu. Mengutip data MIND ID, produksi aluminium Inalum berfluktuasi. Namun, cenderung meningkat dalam 3 tahun terakhir. Perinciannya, produksi aluminium pada 2022 mencapai 223.774 ton. Angka itu kemudian turun pada 2023 menjadi 214.883 ton. Adapun, pada 2024, produksi aluminium Inalum melonjak 27,6% yoy menjadi 274.230 ton. Sementara itu, penjualan aluminium Inalum mencapai 237.215 ton pada 2022. Angka ini turun pada 2023 menjadi 220.087 ton. Selanjutnya, penjualan melonjak 25,6% yoy menjadi 276.381 ton pada 2024. Lonjakan penjualan aluminium itu pun selaras dengan meningkatnya pendapatan perusahaan. Tercatat, pendapatan Inalum mencapai US$716,98 juta atau setara Rp11,77 triliun (asumsi kurs Rp16.423 per US$) pada 2024. Angka ini naik dibanding 2023 yang senilai US$544,84 juta atau sekitar Rp8,94 triliun. Maroef mengemukakan bahwa saat ini MIND ID tengah menyiapkan proyek fasilitas produksi aluminium baru di Mempawah, Kalimantan Barat dengan kapasitas produksi hingga 600.000 ton. Jika digabungkan dengan fasilitas existing milik Inalum, maka total kapasitas MIND ID akan mencapai sekitar 900.000 ton. Di sektor midstream, MIND ID telah mengoperasikan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun untuk memasok bahan baku utama produksi aluminium. Untuk memperkuat keberlanjutan pasokan alumina, pengembangan SGAR Fase II juga tengah dipersiapkan dan akan menambah kapasitas produksi sebesar 1 juta ton per tahun. Tak hanya itu, MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam juga menyiapkan penguatan pasokan bijih bauksit dengan membangun fasilitas washed bauxite sebesar 1,47 juta ton per tahun di wilayah operasional Mempawah. Seluruh rantai nilai tersebut mampu menciptakan dampak ekonomi yang besar di dalam negeri. Sebagai gambaran, 1 ton bauksit yang bernilai sekitar US$40 dapat meningkat menjadi US$575 dalam bentuk alumina, dan kembali melonjak menjadi US$2.700 per ton saat telah berbentuk aluminium. Adapun, berdasarkan catatan Bisnis, MIND ID membutuhkan investasi senilai US$3,5 miliar atau sekitar Rp57,48 triliun untuk meningkatkan produksi aluminium domestik menjadi 1,1 juta ton per tahun dalam 5 tahun mendatang.

Pembenahan Tata Niaga Bauksit

Ketua Umum Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI) Ronald Sulisyanto mengaku bahwa banyak investor asing, termasuk China tertarik masuk ke industri aluminium nasional. Namun, hal ini harus disambut oleh pemerintah dengan menyiapkan aturan yang jelas agar investor tidak kabur. Menurutnya, pemerintah harus memberikan penanganan atau aturan yang spesifik dalam menggenjot hilirisasi bauksit di Tanah Air. Ronald mengingatkan, aturan pengelolaan bauksit tidak boleh disamakan dengan mineral lainnya. Dia mencontohkan, pemerintah kini memperbolehkan transaksi antara penambang dengan smelter dengan mengacu tarif di bawah harga patokan mineral (HPM). Namun, pengenaan royalti, perpajakan, hingga iuran produksi tetap mengacu pada HPM. Hal itu sebagaimana diatur dalam Kepmen ESDM Nomor 268.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batu Bara yang diteken pada 8 Agustus 2025. Menurut Ronald, aturan itu dibuat demi menjaga harga batu bara agar tak turun ketika ekspor melemah. Sementara itu, aturan itu malah merugikan penambang bauksit lantaran saat ini bauksit dilarang untuk diekspor. “Kalau batu bara itu kan ekspor, jadi jangan gara-gara batu bara itu dikeluarkan aturan baru, merugikan bauksit, bauksit itu sekarang menggunakan HPM saja belum sampai, oh sekarang boleh dibawah harga HPM, kan sangat merugikan penambang,” tutur Ronald kepada Bisnis dikutip Minggu (14/9/2025). Dia menambahkan bahwa aturan tersebut bisa membunuh penambang bauksit. Adapun, sejumlah kerugian dari aturan itu seperti kesulitan penambang untuk mendapat harga jual bauksit yang ekonomis, mengganggu kemampuan pendanaan untuk melaksanakan good mining practice, hingga menciptakan ketidakadilan dalam tata niaga mineral bauksit. Oleh karena itu, pihaknya telah melayangkan surat keberatan kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Lewat surat bernomor 001/SP/ABI/ESDM/IX/2025 dan diteken pada 8 September 2025 itu, Ronald meminta transaksi bauksit tetap mengacu pada beleid sebelumnya yang mengacu pada HPM. Lebih lanjut, Ronald juga mengingatkan pemerintah tidak membangun terlalu banyak smelter alumina. Hal ini dilakukan agar semua pasokan bauksit di dalam negeri bisa benar-benar terserap. Dia menyebut, pemerintah harus belajar dari kasus nikel. Banyaknya smelter malah membuat harga nikel jatuh. Di sisi lain, hal ini juga malah membuat beberapa smelter berhenti beroperasi. “[Investor] smelter diundang boleh, tapi juga jangan banyak-banyak, maksimum 7 atau 8, nanti kalau terlalu banyak kayak nikel. Nikel sudah sampai moratorium enggak boleh bikin lagi smelter, bahan bakunya enggak ada. Kalau di sini [bauksit] bahan bakunya melimpah, tapi penambangnya dibuat mati,” tutur Ronald.

Investor Asing Lirik Industri Aluminium RI

Kementerian ESDM mengamini bahwa investor asing mulai melirik industri aluminium Indonesia. Ketertarikan investor itu diyakini bakal menggairahkan hilirisasi bauksit yang sebelumnya stagnan. Sekretaris Ditjen Minerba Kementerian ESDM Siti Sumilah Rita Susilawati menuturkan, saat ini sudah ada beberapa perusahaan asal China yang berinvestasi di sektor hilirisasi bauksit. Perusahaan itu seperti Shandong Nanshan Aluminum di Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang di Pulau Bintan, dan China Hongqiao Group melalui PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) di Kalimantan Barat. “Beberapa di antaranya juga merencanakan ekspansi ke smelter aluminium,” kata Siti. Menurut Siti, tren hilirisasi bauksit saat ini berada dalam tahap transisi. Dia menjelaskan, sejak diberlakukannya larangan ekspor bauksit mentah pada 2023, produksi menurun dan sejumlah proyek smelter masih dalam proses pembangunan. “Tantangannya adalah percepatan realisasi investasi serta kesiapan infrastruktur pendukung,” imbuh Siti. Dia pun optimistis angka ini akan kembali meningkat seiring masuknya proyek-proyek hilirisasi baru yang telah mendekati tahap operasional. Dia berharap hadirnya investor yang serius tidak hanya membangun pabrik pengolahan alumina, tetapi juga melanjutkan hingga produk akhir aluminium (end product). “Dengan demikian, diharapkan terbentuk ekosistem industri yang berkelanjutan dan mandiri, sehingga nilai tambah di dalam negeri dapat meningkat signifikan,” tuturnya.

Tak Cukup di Aluminium

Ketua Badan Kejuruan Teknik Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia (BK Tambang PII) Rizal Kasli berpendapat, MIND ID diharapkan tidak hanya berhenti sampai di tahap menghasilkan intermediate product (produk antara) atau aluminium saja, dalam mengelola bauksit. “Bisa dikembangkan lebih jauh agar dapat memproduksi produk jadi agar bisa mensubstitusi produk impor yang saat ini banyak diimpor dari negara lain,” kata Rizal. Dia juga mengatakan, BPI Danantara bisa memberi dukungan kepada MIND dalam mengembangkan hilirisasi tersebut. Alumunium, kata Rizal, sangat banyak dibutuhkan dalam kehidupan, seperti alat-alat rumah tangga (households), komponen machinery, material konstruksi, interior, transportasi seperti pesawat terbang, hingga kemasan makanan. Rizal juga berpendapat, Danantara bisa memberikan dukungan pengembangan teknologi dalam negeri dengan memanfaatkan hasil penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi, dan lembaga riset di kementerian lain. Menurutnya, penguasaan teknologi ini merupakan hal mutlak bila ingin berperan besar dalam ekosistem supply chain global. Terutama dalam penguasaan mineral kritis dan strategis di masa mendatang. “Tanpa itu Indonesia hanya berperan sampai menghasilkan intermediate product saja. Negara lain yang akan memanfaatkan nilai tambah yang sangat besar dengan menghasilkan produk akhir,” ucap Rizal.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Problematika Hilirisasi Bauksit dan Mimpi Swasembada Aluminium MIND ID”, Klik selengkapnya di sini: https://ekonomi.bisnis.com/read/20250915/44/1911245/problematika-hilirisasi-bauksit-dan-mimpi-swasembada-aluminium-mind-id.
Penulis : M Ryan Hidayatullah – Bisnis.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *